Program B20 Masih Terkendala Pengangkutan

Liputan6.com, Jakarta – Penerapan pencampuran 20 persen biodiesel dengan solar (B20) masih menghadapi kendala. Hal ini membuat program yang bertujuan menghemat devisa negara tersebut b‎elum optimal pelaksanaannya.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, ‎kendala yang dihadapi dalam penerapan B20 adalah transportasi. Penyaluran Solar bercampur biodiesel ke seluruh wilayah Indonesia kerap mengalami hambatan karena tidak adanya transportasi yang mumpuni.

“Kami akui, program B20 belum optimal, tetapi  kami bisa klaim bahwa pleaksanaan sudah lebih baik. Halnya betul ada hambatan di logistik salah satunya,” kata Rida, di Jakarta, Sabtu (27/2018).

Karena biodiesel masih dalam kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maka pengangkutan harus khusus. Jika menggunakan kapal tidak bisa bersamaan dengan dengan penumpang. Oleh karena itu pengangkutan harus menggunakan kapal khusus.

“Kami tidak telisik ketersediaan kapal. Ternyata tidak hanya kuantitas tapi juga spesifikasi. Mengangkut itu tidak sembarang kapal ternyata,” ujarnya.

Meski sudah ada kapal khusus, tetapi biodiesel juga tidak mudah diangkut. Dia mencontohkan seperti kapal miliki Pertamina. Kapal tersebut memiliki spesifikasi yang tepat bahkan sudah tersertifikasi, tetapi tidak bisa mengangkut karena volume kapal terlalu besar untuk biodiesel yang akan dikirim sehingga tidak efisien.

“Itu menarik, kapal ada bersertifikat, tapi klien tidak memerlukan kapal volume sebesar itu. Misal untuk 20 ribu tapi yang perlu 5-10 ribu. Kalau dipaksa jadi tidak efektif,” tandasnya.