Argentina tak bisa lepas dari Messi

Jakarta (ANTARA) – Penyakit lama Argentina hobi menggantungkan diri kepada seorang pemain, kumat. Dulu mereka melakukannya pada Diego Maradona, kini mereka mengulanginya ketika zaman tengah dikuasai Lionel Messi.

Namun begitu, alasan Argentina bertumpu kepada dua superstar beda zaman ini memang sangat masuk akal. Semua orang tahu siapa Maradona dan Messi, dua manusia setengah dewa di lapangan hijau.

Tak ada satu pun tim di dunia ini yang berani menolak kiprah mereka di lapangan hijau. Satu-satunya yang membuat lapangan rumput menolak diinjak mereka adalah ketika mereka sendiri menyatakan pensiun tidak menendang bola.

Sudah berulang kali Messi menyatakan gantung sepatu dari tim nasional, tetapi setiap kali itu pula dia melanggarnya untuk masuk kembali timnas.

Ada kalanya dia jenuh karena tak kunjung bisa mewujudkan ambisinya pada level antarnegara, entah itu Copa America atau lebih besar lagi dari itu, Piala Dunia. Tapi ada kalanya dia menyerah kembali untuk mewujudkan mimpi yang belum bisa dia realisasikan, menjadi juara dunia atau juara di benuanya.

Mungkin jauh di lubuk hatinya, dia ingin seperti Maradona yang berjaya pada level mana pun, termasuk tingkat dunia. Messi sudah mendapatkan segalanya bersama Barcelona. Rekor, gelar, kemasyuran, dan keagungan, di segala teater. Dari Copa del Rey sampai Liga Champions, dari juara liga sampai Piala Dunia Antarklub, sampai Ballon d’Or. Tapi dia tak pernah mengangkat trofi Copa America dan Piala Dunia.

Punggawa Barcelona itu akan mulai bertanding membela negaranya, Jumat ini, melawan Venezuela pada laga persahabatann menjelang Copa America 2019 yang akan mulai Juni nanti.

“Saya kira kami tahu bagaimana memanfaatkan Messi. Bersama dia, timnas tiga kali mencapai final (Piala Dunia) tetapi tak bisa menjuarainya karena ada sedikit perbedaan,” kata pelatih timnas Argentina Lionel Scaloni.

Akhir pekan lalu, Messi melambung ke langit tinggi yang bahkan membuat para pendukung lawan jatuh hormat kepada dia, setelah menciptakan trigol ke gawang Real Betis.

Pekan ini, keluar keputusan dari dirinya yang membuat dunia berpaling lagi kepada dia, kembali ke lingkungan yang paling membahagiakannnya sekaligus paling membuatnya penasaran; Timnas Argentina.

Seketika muncul kembali perdebatan mengenai siapa yang terbesar, Maradona atau Messi?

Ada yang menyebut Maradona lebih akbar, tetapi ada juga yang berpikiran sebaliknya.

Dalam hal konsisten jenius di lapangan, Messi jelas di atas Maradona. Messi konsisten 14 tahun menjadi seorang jenius di lapangan hijau, sebaliknya Maradona hanya bisa empat musim. Dia tidak sekonsisten Messi karena kelakuan buruknya di luar lapangan menghancurkan karirnya di dalam lapangan.

Tetapi sukses dalam sepak bola kerap diukur dari berapa piala dan pada level mana piala-piala itu diraih pemain. Dalam soal ini, Maradona berada di atas Messi. Dia pernah mengantarkan Argentina menjadi juara dunia. Messi tidak pernah.

Kekurangan ini yang akan selalu menghantui pikiran Messi sehingga dia bimbang antara pensiun atau jalan terus bersama timnas.

Akhirnya kembali jua

Pada saat Argentina takluk kepada Prancis di Kazan dalam 16 Besar Piala Dunia 2018, Messi mundur dari timnas. Itu mirip dengan kejadian ketika dia menyatakan pensiun setelah gagal dalam adu penalti sewaktu Argentina dikalahkan Chile dalam final Copa Amerika Centenario 2016.

Baca juga: Tim nasional Argentina kembali panggil Lionel Messi

Kini, dia memutuskan kembali. Tak ada satu pun suara yang menyindir dan mengejeknya. Semua orang senang, semua orang memahami mengapa dia harus menarik lidahnya kembali.

“Dia pemain terbaik di dunia dan kami tak tahu bagaimana memanfaatkan kelebihan dia. Kami harus mencari cara atau pelatih yang membuat kami paham peluang yang dia bawa dan menciptakan tatanan yang kami inginkan,” kata Nicolas Taglafico, pemain Argentina yang kini bek Ajax Amsterdam.

Sewaktu memutuskan kembali ke timnas pada 2016, hanya butuh dua bulan untuk membujuk Messi kembali. Tetapi sekarang membujuk Messi untuk kembali memerlukan waktu lebih lama, sembilan bulan.

Argentina terlihat kehilangan pegangan saat menyadari di hadapan mereka terhampar tantangan besar, yakni mengawali proyek Copa America dengan menghadapi Venezuela di Madrid dalam laga persahabatan, Jumat ini.

Jika turun bermain, maka ini akan menjadi penampilan ke-129 Messi untuk timnas Argentina.

Sembilan bulan dia bungkam sampai kemudian direktur timnas Argentina Cesar Luis Menotti mengungkapkan keinginan tak menggantungkan diri kepada Messi. Tapi kemudian sepak bola Argentina mengalami chaos di bawah Scaloni yang membuat Messi harus turun tangan.

Scaloni tak pernah menjadi pelatih kepala dan sekarang menyandang status itu pun hanya karena menjadi asisten Jorge Sampaoli yang mundur setelah gagal mengantarkan Argentina menjadi kampiun pada Piala Dunia 2018.

Awalnya Scaloni berstatus caretaker tetapi dipertahankan karena cara ini lebih gampang dan lebih murah. Kontraknya diperpanjang sampai Juni tahun ini.

Kiprah kepelatihanya tidak jelek-jelek amat. Empat kali menang dari enam pertandingan persahabatan dan hanya kemasukkan satu gol sewaktu dikalahkan Brazil.

Kini, menjelang persiapan ke Copa America 2019, beberapa nama lawas tercungkil dari timnas. Javier Mascherano pensiun. Penampilan buruk Gonzalo Higuain membuatnya kehilangan tempat. Nicolas Otamendi dan Angel Di Maria tak dipanggil karena cedera.

Sebelas dari anggota skuat Argentina sekarang tak pernah merasakan bermain bersama Messi. Tapi penyegaran seperti ini mungkin yang dibutuhkan Argentina.

Gelandang Paris Saint-Germain, Giovani Lo Celso, kemungkinan turun lebih awal karena dia telah menjalankan fungsi penghubung yang baik kepada Messi dalam pertandingan persahabatan melawan Haiti menjelang Piala Dunia 2018 silam.

Lautaro Martinez akan dimainkan sebagai penyerang tengah dan mungkin bersama rekan satu timnya di Inter Milan, Mauro Icardi.

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa Sergio Aguero tidak masuk skuat. Sampai sekarang masih misterius. Banyak orang menduga pemain Manchester City ini berseberangan dengan Scaloni. Jika Higuain selalu diberi kesempatan, maka Agüero sering dicampakkan karena kerja tim yang tidak terlalu baik.

Namun di atas semua kontroversi itu, tetap saja drama terbesar tercurah kepada Messi. Dia kini berusia 31 tahun, paling tua di timnas Argentina saat ini, selain kiper Franco Armani. Dia sudah mau tutup buku dan mungkin tinggal satu kesempatan lagi tampil pada Piala Dunia, di Qatar pada 2022.

Dia juga paling tidak masih punya kesempatan merasakan lagi dua Copa America. Bedanya sekarang, dia harus bermain dengan tim yang tak sebertaburan bintang seperti tim yang dulu. Tapi yang jelas, Copa America akan memacu adrenalin Messi.

Akankah dia sukses mengakhiri paceklik trofi selama 26 tahun yang dialami Argentina dan sekaligus menjadi trofi internasional pertamanya bersama timnas Argentina?

Masih lama untuk tahu jawabannya. Yang pasti, kiprah Messi, termasuk saat melawan Venezuela Jumat ini, tak akan lepas dari mata dunia.

Baca juga: Messi dan Suarez hancurkan Betis 4-1

Baca juga: Mbappe lebih berharga dari Messi, Ronaldo dan Neymar, kata Mourinho

Baca juga: Messi akui senang dapatkan aplaus dari suporter tim Real Betis

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019